Lewati ke konten
Lingkungan Trenggalek

Longsor di Tugu Trenggalek 2026: Bencana yang Mengguncang Permukiman

Oleh PanselaTime
Longsor di Tugu Trenggalek 2026: Bencana yang Mengguncang Permukiman
Sumber gambar: Editor Indonesia · Kredit: Editor Indonesia

Kabupaten Trenggalek kembali berduka. Pada dini hari tanggal 15 Januari 2026, tanah longsor dahsyat terjadi di kawasan Tugu, sebuah daerah perbukitan yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di kabupaten tersebut. Bencana ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama tiga hari berturut-turut.

  • Kejadian dan Dampak

Longsor terjadi sekitar pukul 02.30 WIB, saat sebagian besar warga masih tertidur lelap. Tebing setinggi kurang lebih 50 meter tiba-tiba ambrol, menimbun permukiman warga di bawahnya. Data sementara dari BPBD Trenggalek menyebutkan bahwa sedikitnya 35 rumah rata dengan tanah, 12 orang mengalami luka-luka, dan 5 orang dinyatakan hilang.

"Suara gemuruh itu membangunkan kami semua. Dalam hitungan detik, tanah longsor sudah menimpa rumah-rumah di bawah," ujar Slamet, seorang warga setempat yang selamat dari bencana tersebut.

  • Proses Evakuasi dan Penanganan Darurat

Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan segera melakukan evakuasi korban. Namun, akses jalan utama menuju lokasi longsor tertutup material longsoran setinggi 3-4 meter, sehingga proses evakuasi berjalan cukup lambat. Alat berat baru bisa dikerahkan pada pagi harinya setelah jalan darurat berhasil dibuka.

"Kami fokus pada pencarian korban hilang dan penanganan warga terdampak," kata Kepala BPBD Trenggalek, Budi Santoso. Posko darurat didirikan di balai desa setempat untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal.

Akar Masalah dan Upaya Mitigasi

Longsor di Tugu bukanlah kejadian pertama. Daerah ini memang dikenal rawan longsor karena topografinya yang berbukit-bukit dengan kemiringan lereng mencapai 45 derajat. Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan pertanian secara sembarangan dan penebangan pohon turut memperparah kondisi.

"Kami sudah beberapa kali memberikan sosialisasi tentang bahaya longsor dan cara mitigasinya," ungkap Camat Tugu, Agus Purnomo. "Tapi kesadaran warga untuk menjaga kelestarian alam masih kurang."

Tanggapan Pemerintah dan Bantuan

Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui BPBD setempat telah menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, dan tenda darurat. Bantuan juga datang dari pemerintah provinsi dan berbagai lembaga sosial.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, yang meninjau lokasi bencana berjanji akan mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. "Kami akan membangun kembali permukiman warga dengan desain yang lebih aman dari bencana," tegasnya.

Pelajaran dan Harapan

Longsor Tugu 2026 menjadi pengingat keras bagi semua pihak akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Ke depan, perlu ada upaya terpadu antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk merumuskan strategi mitigasi bencana yang lebih efektif.

"Kita tidak bisa lagi menganggap enteng bencana alam. Kesadaran dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk meminimalisir korban," tutup Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto.

Video Ad

Tags

Artikel Terkait

Komentar

Komentar akan melalui moderasi sebelum dipublikasikan.